Kamis, 28 Januari 2016

PT.BUKIT ASAM


BUKIT ASAM TINGKATKAN EFISIENSI



Latar Belakang 
          Apa itu efektif dan apa itu efisien. Ingat, bahwa “Effectiveness” means doing the right things. “Efficiency” means doing them right. Efektivitas selalu datang lebih dulu ketimbang efisiensi. Baik efektivitas maupun efisiensi mengharuskan perusahaan - maupun pribadi- untuk terus menetapkan target, menganalisa kerja dengan seksama, mengatur prioritas, dan senantiasa berfokus pada apa - apa yang paling bisa berikan dampak atau nilai terbesar untuk setiap waktu yang dihabiskan.
           Perusahaan yang gagal meraih target yang telah ditetapkan tidak bisa disebut sebagai efisien apalagi efektif. Pencapaian target di sini bisa dinyatakan sebagai sebuah indeks obyektif dari efektivitas perusahaan. Artinya begini; tidaklah cukup bagi sebuah perusahaan untuk mencapai tingkatan produksi tertentu, kualitas dan tingkat biaya dari produksi itu sendiri juga perlu dipertimbangkan. Apabila biaya produksi meningkat karena banyaknya ‘bahan bakar’ yang digunakan, dan kualitasnya buruk sehingga kerja tambahan diperlukan, maka pencapaian target tersebut belumlah menggambarkan efektivitas perusahaan. Dan itu juga tak bisa disebut sebagai efisien tentu saja.
         Di dalam organisasi, efektivitas merupakan bahasan yang senantiasa hangat, yang diangkat berdasarkan issue seperti restrukturisasi sumber daya yang tersedia, perubahan teknologi, pemodifikasian iklim dan budaya organisasi dan pengembangan strategi performa karyawan berbasis target. Sementara itu, bahasan efisiensi dalam perusahaan meliputi evaluasi atas segala sumberdaya yang dioperasikan; apa-apa yang jadi ‘bahan bakar’ efektivitas. Ini pada gilirannya akan meliputi pengorganisiran yang lebih baik atas aspek man, material, machine, methods dan money. Seluruh sumberdaya tersebut hanya tersedia dalam jumlah terbatas, sehingga adalah tugas para manajer untuk bisa mendayagunakan semua itu secara optimal dalam waktu yang sependek mungkin.
         Sehingga efektivitas dalam organisasi benar-benar punya kaitan yang amat krusial dengan efisiensi. Untuk semuanya perusahaan perlu secara cermat dan terampil mempelajari kondisi lingkungannya. Maka program-program, kebijakan dan strategi pengembangan sangatlah tergantung pada kondisi ekonomi, teknologi, dan lingkungan sosial serta psikologis. Perusahaan juga perlu miliki pengetahuan yang mendalam tentang kekuatan pasar, fiskal dan kebijakan lain dari pemerintah, kondisi ekonomi nasional dan faktor-faktor lain yang punya pengaruh penting pada efektivitas perusahaan.
           Agar bisa mendapat hasil yang diinginkan, setiap perusahaan harus mengikuti kaidah ekonomi: mencapai target perusahaan dengan pengeluaran sumberdaya dan waktu seminimal mungkin. Kalau dalam konteks pribadi, kaidah ekonominya ya mengatur segala aktivitas agar Anda bisa meraih lebih banyak hal penting dengan sesedikit mungkin waktu dan energi.




LANDASAN TEORI 
       Tujuan akhir dari adanya O&M adalah bagaimana tercipta efisiensi yang berarti pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen berjalan lancar sesuai dengan harapan, oleh sebab itu kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan efisiensi itu sendiri.
         Efisiensi adalah Perbandingan terbaik atau rasionalitas antara hasil yang diperoleh (output) dengan kegiatan yang dilakukan dalam penggunaan sumber-sumber & waktu (input). Efesiensi merupakan syarat atau ukuran pelaksanaan kerja yang paling tepat sehingga O&M sebagai bantuan teknis dan praktis dalam pelaksanaan fungsi manajemen bisa berjalan lancar yaitu pemaksimalan manfaat sumber-sumber yang dimiliki.

             Syarat-syarat tercapainya efesiensi:

a       Berhasil guna (efektif)

Kegiatan telah dilaksanakan dengan tepat dalam arti target tercapai sesuai waktu yang ditetapkan tanpa mengabaikan. Dalam usaha pencapaian efektif maka biaya, tenaga kerja, material, peralatan, waktu, ruangan dan lain-lain telah digunakan dengan tepat sesuai dengan perencanaan sehingga tidak terjadi pemborosan, penyelewengan dan korupsi.

b      Pelaksanaan kerja dapat dipertanggungjawabkan

Untuk membuktikan bahwa dalam pelaksanaan kerja benar-benar di buat se objektif mungkin, mencerminkan fakta sesusungguhnya, dengan membuat report-report sebagai bukti pengeluaran pengeluaran yang telah dilakukan.

c       Pembagian kerja yang nyata

Dalam pembagian kerja harus didasarkan pada kemampuan masing-masing individu yaitu benar-benar berdasarkan beban kerja, ukuran kemampuan kerja dan waktu yang tersedia.

d      Rasionalitas wewenang dan tanggung jawab

Antara wewenang dan tanggung jawab harus terjadi keseimbangan, jangan sampai wewenang lebih besar atau.

e      Prosedur kerja yang praktis

Untuk menegaskan bahwa O&M merupakan kegiatan praktis, maka target efektif dan ekonomis, pelaksanaan kerja dapat dipertanggungjawabkan serta pelayanan kerja yang memuaskanharuslah merupakan kegiatan-kegiatan operasional yang dapat dilaksanakan dengan lancer dan tidak hanya berhenti sebagai konsep-konsep teoritis di atas kertas saja O&M menunjukan kegiatan ilmiah dan praktis yang urutan tahap demi tahap mencerminkan asal pekerjaan, kemana akan diteruskan dan kapan selesainya.
          Cara Meningkatkan efesiensi:

a      Pelaksanaan fungsi manajemen dengan tepat

b      Pemanfaatan sumber-sumber dengan tepat pula

c      Pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi sebagai alat mencapai tujuan
        Pengarahan & Dinamika organisasi untuk pengembangan & kemajuan yang berkesinambungan.



STUDI KASUS 
         PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk atau lebih dikenal dengan nama Bukit Asam adalah Perusahaan Pertambangan yang dimilik oleh Pemerintah Indonesia yang didirikan pada tahun 1950 berhasil melakukan efisiensi melalui pembuatan peralatan penanganan batubara atau coal handling facility (CHF) untuk Dermaga Kertapati, Palembang, Sumatra Selatan yang dilakukan oleh karyawan perseroan. Upaya efisiensi biaya PT Bukit Asam (Pesero) Tbk (PTBA) mampu menghasilkan penghematan hingga Rp75 miliar. Efisiensi itu diraih dengan menciptakan fasilitas penanganan batu bara (coal handling facility/CHF).             
          “Keberhasilan ini secara langsung meningkatkan nilai efisiensi. Sebelumnya, perseroan berhasil meremajakan rotary car dumper atau alat bongkar batubara dari gerbong kereta api yang mampu menghemat biaya operasional hingga Rp 9,4 miliar,” jelas Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Joko Pramono dalam keterangan tertulis, Senin (11/2).
         Joko menegaskan, CHF yang dibuat di bengkel utama Bukit Asam di Tanjung Enim, Sumatera Selatan itu di antaranya berupa sarana untuk penerimaan batubara, penimbunan batubara, serta pemuatan batubara ke kapal atau tongkang.
         Pembuatan CHF dimulai sejak Maret tahun lalu dan selesai pada Februari 2013. Fasilitas itu dioperasikan di Dermaga Kertapati Palembang, Sumatera Selatan. Dalam pembuatan CHF, Bukit Asam melibatkan mitra binaan yang bergerak dalam pembuatan suku cadang pendukung di sekitar perusahaannya melalui program corporate social responsibility (CSR). Sementara itu, Bukit Asam juga menargetkan penyelesaian proyek perluasan pelabuhan di Lampung untuk meningkatkan kapasitas pengiriman batubara dari 13,5 juta ton menjadi 22-25 juta ton per tahun pada 2014.
        Proyek dengan investasi sebesar Rp 1,5 triliun tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan volume penjualan batubara Bukit Asam. Tahun ini, perseroan menargetkan volume penjualan batubara meningkat lebih dari 25% dibandingkan 2012. Tahun lalu, volume penjualan perseroan naik 21% menjadi 16,3 juta ton.
          Joko Pramono pernah mengatakan, perluasan pelabuhan juga merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengimbangi penurunan harga komoditas. Dengan penambahan volume di tengah penurunan harga batubara, nilai penjualan Bukit Asam diharapkan tetap optimal.
         Selain itu, Bukit Asam akan meningkatkan nilai tambah (added value) dengan menjual batubara berkalori tinggi. Kontribusi penjualan batubara berkalori tinggi pada 2012 mencapai 35%. Tahun ini, kontribusinya bakal ditingkatkan menjadi 45%.
         Penjualan batubara berkalori tinggi ditujukan untuk pasar ekspor. Negara tujuan ekspor perseroan antara lain Jepang, Taiwan, Tiongkok, dan India. Sementara itu, batubara berkalori rendah dijual di pasar domestik, salah satunya ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
         Sekretaris Perusahaan PTBA Joko Pramono mengatakan pembuatan CHF dilaksanakan bengkel utama PTBA di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Fasilitas itu meliputi sarana penerimaan, penimbunan, dan pemuatan batubara ke kapal atau tongkang.
       “Kami sangat bangga atas prestasi tersebut karena tidak hanya faktor efisiensi biaya, tetapi PTBA juga telah membuktikan karyawannya dalam membuat CHF yang sebelumnya harus didatangkan dari luar negeri. Selama ini, PTBA sejak 1980-an menggunakan CHF buatan Jerman,” ungkap Joko di Bursa Efek Indonesia (BEJ) di Jakarta, kemarin.
         Dalam pelaksanaannya, menurut Joko, PTBA menjalin kerja sama dengan mitra binaan yang bergerak dalam pembuatan suku cadang pendukung. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan kemampuan dan pembinaan yang intensif dari perseroan melalui program kepedulian sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
          Penciptaan CHF salah satu inisiatif PTBA dalam menghemat biaya. Sebelumnya, PTBA telah berhasil meremajakan rotary car dumper yang dibuat sendiri oleh karyawan bengkel utama PTBA. Perlengkapan itu antara lain alat bongkar batu bara dari gerbong kereta api dengan cara memutar gerbongnya untuk menumpahkan batu bara di Pelabuhan Tarahan, Bandar Lampung.
         Dia menambahkan kemampuan yang dimiliki karyawan utama PTBA, dengan didukung pembinaan mitra yang andal melalui program CSR, membuat PTBA dapat beroperasi lebih efisien. Selain itu, PTBA bisa mengembangkan industri kecil yang menjadi mitra binaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar